Selasa, 12 Juli 2016

Kisah Lika Liku Anak Jalanan Menjalani Kehidupan

http://bimg.antaranews.com/ambon/2010/07/pekerja-anak-anak.jpg                          
 Kisah Anak Jalanan –kehidupan tidak selamanya indah dan menyenangkan. Apalagi untuk sebagian mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan seperti masyarakat lainnya, akibat keterbatasan dana. Jangankan untuk pendidikan, untuk makan sehari-hari pun sulit. Hal ini dapat digolongkan sebagai sebuah kerugian. Bayangkan, betapa banyak warga kota Jakarta yang tidak mengenyam pendidikan wajib sembilan tahun. Karena waktu mereka telah habis untuk mencari sesuap nasi sebagai upaya bertahan hidup, sehingga sekolah menjadi sebuah kemewahan yang tak terjangkau. Bahkan dalam impian mereka sekali pun.
Kerugian ini melanda anak-anak kurang beruntung yang terlahir di tengah keluarga ekonomi bawah. Padahal anak-anak ini seharusnya menjadi kebanggaan bangsa, tetapi malah menjadi potret kegagalan negara. Kondisi ini dapat kita lihat di setiap sudut kota, banyak terdapat anak-anak yang sedang mengamen dan mengemis untuk mendapatkan uang. Realita seperti ini sungguh sudah biasa di Jakarta. Mereka tidak seberuntung anak-anak lain yang dapat bersekolah, karena kesehariannya selalu berada di jalan.
Sama seperti Anjas, ia sudah menjadi pengamen selama tiga tahun belakangan ini. Hidup dengan susasana kota Jakarta yang sangat keras, demi membantu kedua orang tuanya mencari uang. Ayahnya hanya seorang pemulung, dan ibunya menjadi buruh cuci jika ada panggilan. Kalau tidak ada, ibu Anjas hanya berdiam diri di rumah dan sesekali membantu ayah Anjas mencari barang rongsokan.
Anjas tidak mendapat paksaan dari pihak mana pun –termasuk ayah dan ibunya– menjadi seorang pengamen, “Saya mau jadi pengamen, karena orang tua tidak berpunya. Saya ngamen untuk keperluan sehari-hari,” tutur Anjas.
Anjas mengaku jika sedang beruntung, penghasilannya menjadi pengamen seharinya sekitar Rp. 50.000,- Pernah beberapa kali Anjas menunduk sedih, karena hasil mengamennya seharian hanya terkumpul Rp. 7.000. Uang sebesar itu tentu tak cukup untuk biaya hidup sehari-hari yang dibutuhkan orangtuanya.
Karena ingin mandiri, ia rela mengorbankan masa mudanya untuk hidup di jalanan serta mengenyam kerasnya kota Jakarta. Menjadi seorang pengamen tentu bukan kemauan Anjas, ia juga tidak mau selama-lamanya menjadi seorang pengamen jalanan,
“Nanti kalau sudah punya pekerjaan tetap, saya berhenti jadi pengamen,” tambah Anjas.
Meskipun menjadi pengamen bukanlah kemauannya, tetapi Anjas menikmati saat-saat bersama dengan teman-teman seperjuangan lainnya. Ia mengaku tidak pernah tertangkap oleh SATPOL PP atau pihak berwajib lainnya.
Banyak sekali pegalaman yang ia dapatkan selama menjadi anak jalanan. Dihina orang karena mengamen, dibilang gelandangan, dicaci-maki dan pernah ketika sedang hujan, Anjas berteduh di depan sebuah rumah lalu diusir pemilik rumah karena dikira ingin mencuri. Pengalaman pahit menjadi anak jalanan, memang lebih banyak dibanding pengalaman yang menyenangkan.
Ada pengalaman yang tidak dapat dilupakan Anjas seumur hidupnya. Suatu hari ia bersama kedua temannya mengamen di Jakarta Timur. Penghasilan yang didapat sejak pagi hingga malam hari terhitung banyak, mereka berhasil mengumpulkan Rp. 300.000. Uang tersebut dibagi tiga, berarti seorang mendapatkan Rp. 100.0000. Betapa senangnya Anjas dan teman-teman mendapat pengahasilan yang banyak saat itu.
Memang Anjas sangat bersemangat sekali mengamen pada hari itu, karena dia ingin membeli baju untuk ibunya yang berulang tahun. Anjas sudah membayangkan, sepulang mengamen akan pergi ke pasar membeli baju dan sesampai di rumah ia akan melihat senyum ibunya penuh haru. Belum pernah seumur hidup Anjas, memberikan kado kepada orangtuanya.
Tapi apa boleh dikata –ketika di pinggir jalan menuju ke pasar– Anjas sempat mengeluarkan uang dan menghitung jumlahnya, takut-takut nanti kurang untuk harga baju yang diinginkannya. Tiba-tiba saja datang tiga pemuda menghampiri dirinya. Mereka meminta uangnya, jelas Anjas tak mau memberikan. Tapi mereka memaksa Anjas, bahkan salah satunya mengancam Anjas dengan menodongkan senjata tajam. Anjas ketakutan setengah mati, akhirnya uang tersebut diambil secara paksa oleh para pemuda itu.
Betapa sedih nya hati Anjas, uang yang dicarinya susah payah untuk membeli kado ibunya lenyap begitu saja oleh preman jalanan. Alhasil ia hanya pasrah. Dengan raut wajah penuh kecewa –karena tidak dapat mebelikan ibunya kado– ia pun pulang ke rumah.
Harapan setiap manusia adalah mempunyai derajat sama dengan manusia lainnya. Perjuangan dan harapan selalu berjalan berdampingan menuju sebuah kesuksesan. Banyak orang tidak beruntung di luar sana, tetapi mereka punya semangat yang luar biasa untuk melanjutkan hidup. Itulah kisah anak jalanan semoga bermanfaat buat anda semua.

Bagaimana Mengatasi Problem Anak Jalanan di Ibukota?

https://benradit.files.wordpress.com/2012/05/you-teach.jpgPersoalan anak jalanan tidak pernah ada habis-habisnya. Patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu. Pepatah-pepatah itu barangkali bisa menggambarkan betapa sulitnya mengurangi anak jalanan di Jakarta. Data menunjukkan bahwa jumlah anak jalanan yang berkeliaran di ibukota mencapai 4.000 anak. Sumber lain  justru menunjukkan angka yang lebih fantastic. Tahun 2009, angkanya mencapai 12.000 anak naik 50% dari tahun sebelumnya yang hanya 8.000 anak. Jumlah ini tergolong tinggi dibanding rata-rata jumlah keseluruhan anak jalanan di 12 kota besar yang mencapai lebih dari 100.000 anak.
Anak jalanan di Jakarta tersebar di berbagai lokasi strategis, namun lokasi yang paling mudah kita jumpai anak-anak jalanan adalah disekitar lampu merah. Biasanya mereka mengamen, mengemis, membersihkan kaca mobil, atau aktivitas lain yang bisa mendatangkan rupiah. Konon, Anak-anak tersebut sebagian besar besaral dari luar DKI Jakarta.
Cerita tentang manisnya kehidupan Jakarta, mengundang para pendatang dari berbagai pelosok Indonesia dan dari berbagai lapisan masyarakat. Tak ketinggalan juga pendatang anak-anak yang hanya bermodalkan tekad semata. Mereka datang dengan berjuta harapan untuk mengadu nasib di ibukota. Namun apalah daya Jakarta tidak seramah yang mereka kira. “Siapa suruh datang Jakarta”, itulah penggalan bait lagu yang mungkin bisa menggambarkan betapa tidak bersahabatnya Jakarta bagi para pendatang.
Disamping para pendatang, ada juga mereka yang menjadi anak jalanan karena ditelantarkan oleh orang tuanya. Mereka berjuang sendiri untuk hidup di kota yang tak kenal belas kasihan ini.
Menghadapi gelombang anak jalanan yang begitu besar, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah melakukan berbagai upaya. Dari upaya penertiban, pembinaan, pemberian pelatihan-pelatihan hingga penyediaan rumah singgah bagi mereka. Namun, sepertinya upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut belumlah cukup. Saat ini masih begitu mudahnya kita temukan anak-anak jalanan di sekeliling kita.
Pemerintah nampaknya harus bekerja lebih keras lagi. Undang-undang dasar mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negera. Artinya sesungguhnya mereka yang hidup terlantar (termasuk anak-anak yang hidup di jalanan) juga harus menjadi perhatian negara. Namun, harus juga dipahami bahwa kemampuan negara saat ini mamanglah masih terbatas.
Solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak jalanan antara lain :
(1)    Melakukan pembatasan terhadap arus urbanisasi (termasuk arus masuknya anak-anak) ke Jakarta, dengan cara menggalakkan operasi yustisi, memperkuat koordinasi dengan daerah asal, pemulangan anak jalanan ke daerah asal, dll.
(2)   Melakukan identifikasi terhadap akar permasalahan guna menyelesaikan masalah anak jalanan tersebut dengan menyentuh pada sumber permasalahannya. Sebagai contoh : banyak diantara anak jalanan yang menjadi tulang punggung keluarganya.  Jika ini yang terjadi, maka pemerintah tidak bisa hanya melatih, membina atau mengembalikan si anak ke sekolah. Tapi, lebih dari itu pemerintah harus melakukan pendekatan dan pemberdayaan ekonomi keluarganya;
(3)   Mengembalikan anak jalanan ke bangku sekolah. Ini tidak gampang. Harus ada perlakuan khusus terhadap mereka. Masing-masing anak jalanan tentu memiliki permasalahan yang spesifik. Maka pendekatan yang dilakukan untuk mengembalikan mereka ke sekolah juga harus dilakukan dengan cara yang spesifik pula;
(4)   Memberikan perlindungan kepada anak jalanan tanpa terkecuali. Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga mengamanatkan bahwa perlindungan anak perlu dilakukan dengan tujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.
(5)   Menciptakan program-program yang responsif terhadap perkembangan anak, termasuk anak jalanan;
(6)   Melakukan penegakan hukum terhadap siapa saja yang memanfaatkan keberadaan anak-anak jalanan di ibukota;
(7)   Membangun kesadaran bersama bahwa masalah anak jalanan sesunggungnya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua.