Minggu, 03 Juli 2016

Di Manakah Makna, Tujuan, dan Hidup Sejati?

Artikel

Di Manakah Makna, Tujuan, dan Hidup Sejati?

Mengapa saya ada? Apa sebenarnya tujuan keberadaan kita di dunia ini? Mengapa saya ada dan hidup? Apakah artinya hidup ini? Apakah tujuan hidup ini? Adakah makna dalam hidup dan tujuannya?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sudah pernah kita tanyakan kepada diri kita maupun kepada orang lain, maka sebenarnya itu bukanlah pertanyaan-pertanyaan yang baru. Bahkan di dalam benak orang-orang yang tidak biasa berpikir banyak pun, pertanyaan-pertanyaan seperti ini tetap muncul saat mereka menyempatkan diri untuk berdiam dan membiarkan hati mereka berbicara. Sejarah mencatat berbagai pertanyaan dan jawaban mengenai hal ini, dan setelah ribuan tahun, sekarang pun kita masih tetap menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Memang makna, tujuan, dan hidup merupakan suatu pencarian yang paling menarik dan membingungkan manusia.
Mengapa kita selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan universal yang terus menerus ditanyakan seperti ini membuktikan adanya konsep makna, tujuan, dan hidup yang terkait di dalam hati manusia yang terdalam. Konsep-konsep intrinsik ini menyebabkan kita bertanya-tanya dan sekaligus berespon terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, walaupun terdapat perbedaan interpretasi dari setiap manusia terhadap makna, tujuan, dan hidup itu sendiri.
Perbedaan interpretasi makna hidup itu bergantung kepada definisi awal dari arti kata ‘makna’. Apakah itu ‘makna’? Sebelum kita dapat menanyakan apakah makna hidup ini, kita disadarkan bahwa bahkan kata ‘makna’ juga bisa memiliki arti yang berbeda-beda, tergantung situasinya. Walaupun manusia secara alamiah memiliki konsep-konsep intrinsik tentang makna, tujuan, dan hidup, kita juga membangun pengertian kita akan konsep-konsep ini melalui pengaruh tradisi dan pengalaman-pengalaman pribadi kita yang sangat terbatas.
Kenyataan akan keterbatasan ini menuntun kita kepada pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar lagi. Apakah artinya ‘makna’? Apakah artinya ‘tujuan’? Apakah artinya ‘hidup’? Apakah jawaban yang benar dari pertanyaan-pertanyaan ini memiliki natur yang subjektif atau objektif?
Jika natur jawaban tersebut adalah subjektif, maka arti dapat berubah sesuai dengan definisi setiap individu. Ini sama dengan mengatakan bahwa makna, tujuan, dan hidup boleh berarti apa saja yang kita suka. Tetapi kalau natur jawabannya adalah objektif, ada suatu patokan mutlak yang tidak akan berubah bagaimanapun orang-orang ingin memberi definisi mereka sendiri. Patokan mutlak tidak berarti setiap orang menyetujuinya, tetapi hanya berarti ada jawaban yang pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagai contoh, matahari terbit di sebelah timur bukan suatu pernyataan yang dihasilkan oleh mufakat masyarakat, tetapi itu memanglah sesuatu kenyataan. Setuju atau tidak, itu tetap kenyataan. Jadi apakah arti dari makna, tujuan, dan hidup itu bernatur objektif seumpama kenyataan yang pasti, ataukah bernatur subjektif sesuai definisi kita sendiri? Jika kita tidak mengerti natur asli dari konsep-konsep ini, kita akan menemui kesulitan dalam membicarakan tujuan dan arti hidup secara konsisten.
Tetapi, untuk apa susah-susah menanyakan pertanyaan filsafat seperti ini? Apa sih pentingnya mengetahui apakah makna, tujuan, dan hidup itu bernatur subjektif atau objektif? Memang apa salahnya kalau kita memakai definisi yang subjektif untuk menjalani hidup kita sendiri?
Interpretasi subjektif tentang makna hidup terbagi dalam dua kategori, yaitu interpretasi secara meta-narrative (interpretasi secara keseluruhan) dan interpretasi secara gambaran kecil. Pendulum sejarah sudah bergerak dari interpretasi meta-narrative ke interpretasi yang hanya melihat gambar-gambar kecil yang terpisah. Perubahan ini terjadi sekitar abad ke-20 ketika manusia melepaskan diri dari Modernisme dan masuk ke dalam zaman Posmodernisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar