Apa yang pertama kali muncul dalam pikiran pembaca ketika mendengar
anak jalanan? Tanpa bermaksud mendahului pemikiran pembaca, berdasarkan
beberapa referensi umumnya anak jalanan diidentikkan dengan anak-anak
yang kurang beruntung, kondisi ekonomi rendah, pengamen, pengemis yang
berada di jalan atau tempat-tempat umum lainnya, serta perilaku agresif
ataupun identitas negatif lainnya. Namun tidak jarang pembaca yang
memiliki gambaran positif terhadap anak jalanan misalnya pekerja keras,
sopan, mematuhi peraturan dan memilliki kepuasan hidup yang memadai
dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Pandangan-pandangan positif ini
kontras dengan pandangan negatif yang telah dikemukakan terlebih dahulu.
Pandangan positif ini bukannya tanpa dasar, tetapi disertai dengan
bukti nyata di kehidupan anak jalanan. Tulisan ini akan mengupas sisi
positif anak jalanan yang memiliki kepuasan hidup memadai berdasarkan
hasil penelitian berjudul Perilaku Agresif Anak Jalanan Berdasarkan Tinjauan Subjective Well Beingyang telah dilakukan Yuwanto, Monica, dan Khiat (2014) pada 100 anak jalanan di kota Surabaya.
Anak jalanan didefinisikan sebagai anak-anak yang menghabiskan sebagian
besar waktunya di jalan, konsep jalan tidak hanya sebatas pada jalan
sebagai fasilitas atau jalur transportasi tetapi juga tempat umum
seperti pasar, terminal, stasiun, pertokoan, taman kota, dan
tempat-tempat serupa. Saat di jalanan, anak-anak tersebut melakukan
aktivitas ekonomi seperti mengamen, menyemir sepatu, kuli pasar, kernet,
pengasong, dan pekerjaan yang dapat dilakukan anak jalanan yang
berpotensi menghasilkan uang. Berdasarkan definisi ini masih perlu
dipertanyakan anak-anak yang berada di jalanan tetapi tidak melakukan
aktivitas ekonomi namun melakukan perilaku negatif dan menghasilkan uang
seperti memalak, merampok, mencuri, dan perilaku sejenis yang dapat
dikategorikan sebagai perilaku kriminal bukan sebagai aktivitas ekonomi.
Beberapa anak jalanan yang memiliki aktivitas ekonomi juga melakukan
perilaku kriminal, perilaku-perilaku kriminal tersebut yang kemudian
membentuk pandangan negatif masyarakat terhadap anak jalanan sehingga
merasa terganggu dengan kehadiran anak jalanan.
Anak-anak jalanan yang menampilkan perilaku kriminal dapat
dikategorikan sebagai anak jalanan dengan kepuasan hidup yang rendah.
Perilaku kriminal yang dilakukan dapat dalam bentuk menyerang orang lain
secara fisik dan menyerang hak milik orang lain. Umumnya mereka
memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Memiliki keluarga, namun suasana
keluarganya kurang harmonis, seperti keluarga tidak memperdulikan anak
jalanan dan menuntut anak jalanan untuk bekerja sehingga mereka tidak
bersekolah. Dengan karakteristik ini sangat wajar anak jalanan menjadi
tidak puas dengan hidupnya karena dukungan keluarga tidak terpenuhi,
menanggung beban ekonomi, dan tidak terdidik secara formal. Anak-anak
jalanan tipe ini orientasinya lebih ke arah pemenuhan jangka pendek
terutama kebutuhan akan uang, hidup bebas, mudah merasa iri apabila ada
orang lain kondisinya lebih enak dari dirinya, dan tidak mau mengikuti
peraturan yang ada.
Lantas bagaimana anak-anak jalanan yang memiliki kepuasan hidup
memadai? Hasil penelitian menunjukkan anak-anak jalanan yang memiliki
keluarga dengan karakteristik keluarganya masih memperdulikan, masih
menunjukkan suasana keluarga yang positif, masih mengenyam pendidikan
baik formal ataupun non formal selain menjalankan pekerjaan tertentu
sesuai kemampuannya, anak-anak inilah yang memiliki kepuasan hidup
memadai. Keluarga memiliki peran yang besar terhadap pengasuhan anak,
meskipun kondisi ekonomi yang tidak memadai, orangtua ataupun keluarga
tetap memiliki tanggungjawab terhadap perkembangan psikologis anak-anak.
Penanaman nilai dan perilaku positif, orientasi masa depan yang baik,
merupakan modal berharga yang disosialisasikan melalui keluarga.
Pendidikan formal ataupun non formal di luar keluarga, memiliki peran
memperkuat aturan-aturan yang sifatnya lebih luas pada anak-anak dengan
dasar yang sudah dimiliki dari keluarga. Karena itulah meskipun
anak-anak jalanan bekerja sesuai dengan kapasitasnya, mereka menjadi
lebih merasa berarti dalam bekerja, memiliki tujuan, dan berperilaku
lebih positif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar